Feed on
Posts
comments

Gong

Gong is a musical instrument at a popular in East Asia. Gong is used for traditional music instruments. Currently not many craftsman gong origin in some countries, but in many producer and exsported gong to some neighboring countries

Gong which has been determined can not be incused the intonations. Gong tones new form after rinsed and cleaned. When the tone still not fit, so the gong  smootihing layer of bronze become more sparse. Gong made of brass metal played with a stick using the short-beaten, one finger (index finger) can be used to muffle and reduce vibration gong ring volume produced. Gong have some type of appropriate types of uses and one position in the composition of songs.

Gong role cue at the beginning and end of songs in the performance or gamelan music, which usually accompany performance art kilit puppet, puppet show and other traditional arts in several areas in Indonesia.

Bookmark and Share

Degung

Ada beberapa gamelan yang pernah ada dan terus berkembang di Jawa Barat, antara lain Gamelan Salendro, Pelog dan Degung. Gamelan salendro biasa digunakan untuk mengiringi pertunjukan wayang, tari, kliningan, jaipongan dan lain-lain. Gamelan pelog fungsinya hampir sama dengan gamelan salendro, hanya kurang begitu berkembang dan kurang akrab di masyarakat dan jarang dimiliki oleh grup-grup kesenian di masyarakat. Hal ini menandakan cukup terwakilinya seperangkat gamelan dengan keberadaan gamelan salendro, sementara gamelan degung dirasakan cukup mewakili kekhasan masyarakat Jawa Barat. Gamelan lainnya adalah gamelan Ajeng berlaras salendro yang masih terdapat di kabupaten Bogor, dan gamelan Renteng yang ada di beberapa tempat, salah satunya di Batu Karut, Cikalong kabupaten Bandung. Melihat bentuk dan interval gamelan renteng, ada pendapat bahwa kemungkinan besar gamelan degung yang sekarang berkembang, berorientasi pada gamelan Renteng.

Degung merupakan salah satu gamelan khas dan asli hasil kreativitas masyarakat Sunda. Gamelan yang kini jumlahnya telah berkembang dengan pesat, diperkirakan awal perkembangannya sekitar akhir abad ke-18/awal abad ke-19. Jaap Kunst yang mendata gamelan di seluruh Pulau Jawa dalam bukunya Toonkunst van Java (1934) mencatat bahwa degung terdapat di Bandung (5 perangkat), Sumedang (3 perangkat), Cianjur (1 perangkat), Ciamis (1 perangkat), Kasepuhan (1 perangkat), Kanoman (1 perangkat), Darmaraja (1 perangkat), Banjar (1 perangkat), dan Singaparna (1 perangkat).

Masyarakat Sunda dengan latar belakang kerajaan yang terletak di hulu sungai, kerajaan Galuh misalnya, memiliki pengaruh tersendiri terhadap kesenian degung, terutama lagu-lagunya yang yang banyak diwarnai kondisi sungai, di antaranya lagu Manintin, Galatik Manggut, Kintel Buluk, dan Sang Bango. Kebiasaan marak lauk masyarakat Sunda selalu diringi dengan gamelan renteng dan berkembang ke gamelan degung.

Dugaan-dugaan masyarakat Sunda yang mengatakan bahwa degung merupakan musik kerajaan atau kadaleman dihubungkan pula dengan kirata basa, yaitu bahwa kata “degung” berasal dari kata “ngadeg” (berdiri) dan “agung” (megah) atau “pangagung” (menak; bangsawan), yang mengandung pengertian bahwa kesenian ini digunakan bagi kemegahan (keagungan) martabat bangsawan. E. Sutisna, salah seorang nayaga Degung Parahyangan, menghubungkan kata “degung” dikarenakan gamelan ini dulu hanya dimiliki oleh para pangagung (bupati). Dalam literatur istilah “degung” pertama kali muncul tahun 1879, yaitu dalam kamus susunan H.J. Oosting. Kata “De gong” (gamelan, bahasa Belanda) dalam kamus ini mengandung pengertian “penclon-penclon yang digantung”.

Gamelan yang usianya cukup tua selain yang ada di keraton Kasepuhan (gamelan Dengung) adalah gamelan degung Pangasih di Museum Prabu Geusan Ulun, Sumedang. Gamelan ini merupakan peninggalan Pangeran Kusumadinata (Pangeran Kornel), bupati Sumedang (1791—1828).

Bookmark and Share

Rebab

Adalah alat musik yang menggunakan penggesek dan mempunyai tiga atau dua utas tali dari dawai logam (tembaga) ini badannya menggunakan kayu nangka dan berongga di bagian dalam ditutup dengan kulit lembu yang dikeringkan sebagai pengeras suara. Alat ini juga digunakan sebagai pengiring gamelan, sebagai pelengkap untuk mengiringi sinden bernyanyi bersama-sama dengan kecapi. Dalam gamelan Jawa, fungsi rebab tidak hanya sebagai pelengkap untuk mengiringi nyanyian sindhen tetapi lebih berfungsi untuk menuntun arah lagu sindhen.

Sebagai salah satu dari instrumen pemuka, rebab diakui sebagai pemimpin lagu dalam ansambel, terutama dalam gaya tabuhan lirih. Pada kebanyakan gendhing-gendhing, rebab memainkan lagu pembuka gendhing, menentukan gendhing, laras, dan pathet yang akan dimainkan. Wilayah nada rebab mencakup luas wilayah gendhing apa saja. Maka alur lagu rebab memberi petunjuk yang jelas jalan alur lagu gendhing. Pada kebanyakan gendhing, rebab juga memberi tuntunan musikal kepada ansambel untuk beralih dari seksi yang satu ke yang lain.

Bookmark and Share

Kendang/Gendang

Kendang adalah sejenis alat musik perkusi yang membrannya berasal dari kulit hewan. Kendang atau gendang dapat dijumpai di banyak wilayah Indonesia. Di Jawa barat kendang mempunyai peraanan penting dalam tarian Jaipong. Di Jawa Tengah, Bali, DI Yogyakarta, Jawa timur kendang selalu digunakan dalam permainan gamelan baik untuk mengiringi, tari, wayang, ketoprak. Tifa adalah alat musik sejenis kendang yang dapat di jumpai di daerah Papua, Maluku dan Nias.

Bookmark and Share

Karinding

Alat tiup ini sudah ada sejak zaman batu, alat ini sangat unik dan gampang dimainkan, cara menggunakannya cukup ditempelkan di mulut dan sisi getar di ujung nya dipukul, akan menghasilkan suara yang khas seperti suara contra bass. Alat ini sangat unik dan cara mencarinya sangat susah. dibutuhkan kesabaran, ketekunan luar biasa dalam membuat alat ini, karena jika salah sedikit saja, pelepah bambu yang akan dibuat karinding akan patah.

Karena nilai seni alat musik ini sangat tinggi, bahan yang digunakan untuk membuat karinding tentu saja harus bambu yang kualitasnya paling bagus, bambu yang digunakan untuk membuat karinding biasanya adalah bambu hitam. Di bali, karinding disebut genggong. macam - macam daerah mempunyai sebutan untuk karinding ini.

Bookmark and Share

Suling Sunda

suling

suling

This musical instrument is a wind instrument made of bamboo Tamiang, one type of bamboo that is thin and small diameter so that it is suitable to be made flute, flute Sundanese is called “suling” that usual accompanying Kacapi, Gamelan and Tembang Sundanese gamelan, the sound produced is very unique and arouse the soul of the listener, it is because the scale of the flute tone and the soul of suling player. There are 4 tone scale for the flute sunda:

1. Pelog Degung

2.  Madenda atau Sorog

3. Salendro

4. Mandalungan

Bookmark and Share

Kacapi

kacapi

kacapi

Kacapi merupakan alat musik petik yang berasal dari Jawa Barat, biasa digunakan sebagai pengiring suling sunda atau dalam musik lengkap, sampai saat ini masih terus dilestarikan dan dijadikan kekayaan seni Sunda yang sangat bernilai bagi masyarakat asli Jawa Barat.

Membutuhkan latihan khusus untuk dapat memainkan alat musik ini dengan penuh penghayatan, tak jarang latihan dilakukan di alam terbuka agar dapat menyatukan rasa dan jiwa sang pemetik Kacapi, lebih dari itu semua suara yang dihasilkan dari alat musik ini akan menenangkan jiwa para pendengarnya, dan mampu membawa suasana alam Pasundan di tengah-tengah pendengar yang mulai terhanyut dengan buaian nada-nada yang indah dari Kacapi.

Bookmark and Share

Calung

Merupakan alat musik tradisional yang berasal dari Jawa Barat dan menjadi ciri khas budaya Sunda yang selama ini ada dan bertahan di sana, sering kali orang menganggap sama antara Calung dengan Angklung, pada dasarnya alat musik ini sama-sama terbuat dari bambu yang dibentuk sedemikian rupa sehingga dapat menghasilkan nada-nada harmonis, bedanya adalah pada cara memainkannya, kalau Angklung dimainkan dengan cara digetarkan atau digoyang-goyangkan, sedangkan Calung dimainkan dengan cara dipukul, Calung terbuat dari bambu hitam yang memang khusus digunakan untuk membuat calung, karena suara yang dihasilkan akan lebih baik bila menggunakan jenis bambu ini.

Beberapa bentuk calung:

1. Calung Gambang
Yang disebut Calung Gambang adalah sebuah calung yang dideretkan diikat dengan tali tanpa menggunakan ancak/standar. Cara memainkannya sebagai berikut: kedua ujung tali diikatkan pada sebuah pohon/tiang sedangkan kedua tali pangkalnya diikatkan pada pinggang si penabuh. Motif pukulan mirip memukul gambang.

2. Calung Gamelan
Calung Gamelan adalah jenis calung yang telah tergabung membentuk ansamble. Sebutan lain dari calung ini adalah Salentrong (di Sumedang), alatnya terdiri dari:
1. Dua perangkat calung gambang masing-masing 16 batang
2. Jengglong calung terdiri dari 6 batang
3. Sebuah gong bamboo yang biasa disebut gong bumbung
4. Calung Ketuk dan Calung Kenong terdiri dari 6 batang
5. Kendang
Lagu-lagunya antara lain Cindung Cina (Cik indung menta Caina), Kembang Lepang, Ilo ilo Gondang.

3. Calung Jingjing
Calung Jingjing adalah bentuk calung yang ditampilkan dengan dijingjing/dibawa dengan tangan yang satu sedang tangan yang lainnya memegang pemukul. Sangat digemari dibandingkan dengan bentuk calung-calung lainnya, alatnya terdiri dari:
1. Calung Melodi mempunyai sepuluh nada s.d. 12 nada
2. Calung pengiring/akompanyemen terdiri dari 10 nada
3. Calung Jengglong terdiri dari 5 nada
4. Calung besar sebanyak dua batang/nada berfungsi sebagai kempul dan gong

Bookmark and Share

Blue Man

Blue Man Group’s Matt Goldman

Blue Man

Blue Man

March 31, 2008
In 1988, one of the more unusual things a visitor to dirty, dangerous Manhattan would have seen was a trio of blue-painted, black-clad bald men parading around the East Village, doing performance art. “It was a strange time because there was no music or theater scene. It was the time of Reaganomics and yuppies,” recalls Matt Goldman, who co-founded Blue Man Group with friends Chris Wink and Phil Stanton. Wink and Stanton were working as caterers; Goldman was a software developer. The trio originally began meeting to share interesting and exciting things they had seen, heard and found in the city. They took their act — the origins of which they prefer to keep shrouded in mystery to maintain the mystique of its brand — to the streets, doing stunts like tossing and catching rubber balls with their mouths. “The only way to describe it is the blue man found us,” says Goldman, who, like his partners, rarely performs anymore. “In the earliest days we would walk around looking for like-minded people. Some would pretend to not see us…and some would come up to us and say, ‘That’s really cool.’” Those street performances led to gigs at local clubs. The early shows had no music behind them. After realizing the act needed a beat, the group began making its own instruments, a practice that continues. “The blue man is about connecting and creating. When you first see the blue man, you think he’s a strange being, and then you realize you’re watching yourself. He’s the purest expression of humanity,” says Goldman. In 1991, the group rented the Astor Place Theatre, a 300-seat venue in the East Village, for its show Tubes/Rewired. From there the show has expanded to include casts in Boston, Chicago, Berlin and Tokyo, among other cities. The latest production began in February in Stuttgart, Germany. In early March the group announced a partnership with Allegiant Air, a Las Vegas-based airline. The blue men’s faces are to appear on the side of the airplanes, blue handprints on the inside hull, and the flight attendants will sell tickets to Las Vegas performances. In exchange, those shows will feature an Allegiant airplane exterior on stage and an Allegiant VIP room. The carrier will receive a commission on show tickets sold on its Web site and in the air. “From their perspective, they are co-branding with someone who is fun, intelligent and high quality, and they send their customers to a show,” Goldman says. There have been some bumps in th road to becoming a theatrical juggernaut. Blue Man Group generally does not use union workers, and when a show opened in Toronto in 2005, it was beset by guild picketers. It closed after only 18 months. Blue Man Group is also involved in a dispute with the National Labor Relations Board over Las Vegas stagehands’ efforts to unionize. The case is before the U.S. Court of Appeals in Washington, D.C., and a ruling is expected soon. “We wanted the whole crew to have an opportunity to vote, and the local wanted only part of the crew to vote. That’s what is before the court,” says Goldman. Along the way, the troupe starred in three campaigns for Intel in 2000 and 2004 by then-agency Euro RSCG MVBMS. Did the group ever worry about being labeled sellouts? “We went around to everyone single person in the company at the time and asked them what they thought,” Goldman says. “What we came to was if the spots were very good or above we would be glad to have the opportunity to do a 25-second Blue Man short. If it was short of very good, then we would regret it forever.” There appear to be no regrets. Today Blue Man Group has an in-house advertising agency, Astor Media Service, that makes ads promoting the shows. In April the company will release a CD/DVD entitled How to Be a Megastar Live!, a concert film that includes a documentary about the group. BIOGRAPHY: Education: Graduated from Clark University with a BA in economics in 1983 and received his MBA, with a concentration in marketing, in 1984. Background: Born in 1961 and raised in New York City, Goldman began performing as part of the Blue Man Group while he was a software producer. Honors: Obie Special Citation, 1991; Lucille Lortel Special Award, 1992; Drama Desk Unique Theatrical Experience, 1992; Eddy Award (Sound Design), 2000; the first Blue Man Group CD, Audio, was Grammy nominated for Best Pop Instrumental Performance in 2001; named one of the top 25 most influential designs by Entertainment Design in 2002; Blue Man Group has raised more than $2 million for Broadway Cares/Equity Fights AIDS “We try to create a genuine emotional experience, something you could only have at a sports event…” says Goldman. “I think that one of the keys to our longevity is that when it works we actually create that feeling in people.”

Bookmark and Share

Maxim Mrvica

Name: Maksim Mrvica

Maxim Mrvica

Maxim Mrvica

Pronouced: Maxim Maravitsa
Birthdate: 3rd May, 1975
Birthplace: Sibenik, Croatia
Nationality: Croatian
Currently based: Oxford Circus
Zodiac Horoscope: Taurus
Chinese Horoscope: Rabbit
Languages: English, Russian, French, Serbo-Croat
Has lived in: Sibenik, Zagreb, Paris.
Religion: Orthodox Christian

Maxim is the croatian pianist, who makes the arrangement to the classical compositions or just to normla listenable music:-) the figure skater often use his “makeovers” for their programs….
He has four cd now: The PIANO PLAYER, VARIATINOS part I.&II., The NEW WORLD and ELECTRIC.

Bookmark and Share

Older Posts »